Penting Diketahui, Ini Mitos dan Fakta Seputar Luka Serta Penyembuhannya

Ilustrasi. - Reuters
13 Oktober 2019 11:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Ada banyak sekali mitos yang berkembang seputar menyembuhkan luka di tubuh. Bahkan, ada yang memicu terjadinya kesalahan mindset.

Dokter spesialis luka pertama di Indonesia, Dr. Adisaputra Ramadhinara mengungkapkan sejumlah mitos yang sampai detik ini masih dipercayai masyarakat Indonesia.

“Paling umum itu masih banyak yang membiarkan luka terbuka dan tidak ditutup sama sekali, ada yang sampai ditiup-tiup agar cepat kering. Padahal, pada dasarnya kulit manusia itu lembap. Jadi saat terjadi luka, harus ditutup dengan plester untuk menutupi lapisan kulit yang hilang, sehingga kulit akan tetap lembap,” tutur Dr. Adisaputra Ramadhinara, di Pasar Beringharjo, Sabtu, 12 Oktober 2019.

Seorang peneliti asal Inggris, George D. Winter sebetulnya telah melakukan penelitian pada 1962 untuk menjawab mitos tersebut. Ia menemukan bahwa luka yang ditutup cenderung lebih cepat sembuh dibandingkan luka yang dibiarkan terbuka.

Dr. Adisaputra kemudian menyinggung mitos seputar luka bakar yang konon bisa diobati dengan mengoleskan pasta gigi atau menyiramnya dengan alkohol. Menurutnya, hal tersebut justru dapat memicu kerusakan jaringan di sekitar luka, serta meninggalkan bekas luka ketika sudah sembuh.

Prinsipnya, luka itu harus dibersihkan, idealnya dengan antiseptik. Untuk luka bakar memang treatment-nya berbeda. Harus dibersihkan dengan air mengalir selama 15-20 menit untuk membuang panasnya. Sehingga dampak dari panas itu bisa diminimalisir dan efeknya tidak kemana-kemana. Dan ingat, setelah itu harus ditutup," tegasnya.

Lalu bagaimana dengan kebiasaan memberi ludah pada bagian tubuh yang terluka? Kebiasaan ini, menurut Dr. Adi, terbentuk karena manusia sering memperhatikan tingkah laku binatang dan tanpa disadari menirunya.

Namun, ia tidak memungkiri bahwa air liur memiliki komponen anti bakteri. Itu sebabnya, ketika seseorang mengalami sariawan, mereka disarankan untuk mengonsumsi air putih yang banyak, agar produksi air liurnya meningkat.

"Kelemahan Indonesia itu masih menyepelekan luka. Negara kita bahkan tidak memiliki wound center sama sekali. Padahal ada banyak kasus-kasus luka akut yang berubah menjadi kronis karena ketidaktahuan masyarakat dalam menanggapinya," kata Dr. Adi.

Di dunia medis sendiri kini sudah terjadi kemajuan yang cukup pesat. Dalam 5 tahun terakhir, terjadi sebuah pergeseran tren, di mana produk-produk atau salep jenis povidone iodine tidak lagi digunakan.

Kebanyakan rumah sakit sekarang menggunakan Polyhexamethylene Biguanide (PHMB). Zat antiseptik ini dinilai lebih efektif dalam mengatasi infeksi, tidak perih, tidak meninggalkan noda dan tidak berbau. Selain itu, tidak berdampak pada jaringan kulit, dan mampu membunuh bakteri.

“Kalau povidone iodine itu ada efek sampingnya seperti alergi. Dia juga memiliki warna yang akan menyulitkan para dokter dalam menganalisa dan mengeksplorasi luka. Itulah sebabnya sekarang rumah sakit banyak menggunakan PHMB,” jelas dokter spesialis luka bersertifikasi Certified Wound Specialist Physician.

Sementara itu, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya merawat luka dan seputar pertolongan pertama, Hansaplast meluncurkan program edukasi massal di 16 pasar di 15 kota di Indonesia.

Pasar Beringharjo di terpilih sebagai lokasi pertama diadakannya kegiatan edukasi massal yang telah diselenggarakan tempo hari, Sabtu 12 Oktober 2019. Kegiatan ini turut diramaikan oleh presenter sepakbola, Valentino Jebret.

Sumber : Okezone.com