Kacang Kenari, Camilan Lezat yang Bermanfaat untuk Usus dan Jantung

Kenari atau walnut - Medical News Today
22 Januari 2020 06:47 WIB Reni Lestari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Dibalik lezatnya walnut atau kacang kenari menjadi camilan lezat, rupanya buah ini punya manfaat kesehatan. Walnut bisa mengembangkan bakteri baik untuk usus Anda. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bakteri baik ini dapat berkontribusi pada manfaat kesehatan jantung.

Dalam uji coba terkontrol secara acak, para peneliti menemukan bahwa mengonsumsi walnut setiap hari merupakan bagian dari diet sehat yang dikaitkan dengan peningkatan bakteri tertentu pembantu peningkatkan kesehatan. Selain itu, perubahan-perubahan dalam bakteri usus dikaitkan dengan perbaikan dalam beberapa faktor risiko penyakit jantung.

Kristina Petersen, asisten profesor peneliti di Penn State, mengatakan studi tersebut menunjukkan ihwal kacang walnut camilan yang sehat bagi jantung dan usus.

"Mengganti camilan biasa - terutama jika camilan tidak sehat - dengan kenari adalah perubahan kecil yang bisa Anda lakukan untuk memperbaiki pola makan," kata Petersen, dilansir Science Daily, Selasa (21/1/2020).

"Bukti substansial menunjukkan bahwa perbaikan kecil dalam diet sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makan dua hingga tiga ons kacang kenari sehari sebagai bagian dari diet sehat bisa menjadi cara yang baik untuk meningkatkan kesehatan usus dan mengurangi risiko penyakit jantung," lanjutnya.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa walnut, ketika dikombinasikan dengan diet rendah lemak jenuh, mungkin memiliki manfaat bagi kesehatan jantung. Makan kacang walnut setiap hari membantu menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah.

Menurut para peneliti, penelitian lain telah menemukan bahwa perubahan pada bakteri di saluran pencernaan - juga dikenal sebagai microbiome usus - dapat membantu menjelaskan manfaat kardiovaskular dari kacang kenari.

"Ada banyak pekerjaan yang dilakukan pada kesehatan usus dan bagaimana hal itu mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan," kata Penny Kris-Etherton, profesor nutrisi terkemuka di Penn State.

Jadi, lanjutnya, selain melihat faktor-faktor seperti lipid dan lipoprotein, peneliti juga ingin melihat kesehatan usus, juga apakah perubahan kesehatan usus dengan konsumsi kenari terkait dengan peningkatan faktor risiko penyakit jantung.

Untuk penelitian ini para peneliti merekrut 42 peserta dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang berusia antara 30 dan 65 tahun. Sebelum penelitian dimulai, para peserta ditempatkan pada diet rata-rata selama dua minggu.

Setelah diet ini, para peserta secara acak ditugaskan mengadopsi salah satu dari tiga diet studi, yang semuanya termasuk lebih sedikit lemak jenuh daripada diet rata-rata. Diet termasuk yang memasukkan kenari utuh, yang mengandung jumlah yang sama dari asam alfa-linolenat (ALA) dan asam lemak tak jenuh ganda tanpa kenari, dan yang sebagian mensubstitusi asam oleat (asam lemak lain) dengan jumlah yang sama dengan ALA yang ditemukan pada kenari.

Dalam ketiga diet, kenari atau minyak nabati menggantikan lemak jenuh, dan semua partisipan mengikuti setiap diet selama enam minggu dengan istirahat di antara periode diet.

Untuk menganalisis bakteri dalam saluran pencernaan, para peneliti mengumpulkan sampel tinja 72 jam sebelum para partisipan menyelesaikan diet run-in dan masing-masing dari tiga periode diet studi.

"Diet kenari memperkaya sejumlah bakteri usus yang telah dikaitkan dengan manfaat kesehatan di masa lalu," kata Petersen.

"Salah satunya adalah Roseburia, yang telah dikaitkan dengan perlindungan lapisan usus. Kami juga melihat pengayaan pada Eubacteria eligens dan Butyricicoccus," tuturnya.

Para peneliti juga menemukan bahwa setelah diet kenari, ada hubungan yang signifikan antara perubahan bakteri usus dan faktor risiko penyakit jantung. Eubacterium eligens berbanding terbalik dengan perubahan dalam beberapa ukuran tekanan darah, menunjukkan bahwa jumlah Eubacterium yang lebih besar dikaitkan dengan pengurangan yang lebih besar pada faktor-faktor risiko tersebut.

Selain itu, jumlah yang lebih besar dari Lachnospiraceae dikaitkan dengan penurunan tekanan darah, kolesterol total, dan kolesterol non-HDL yang lebih besar. Tidak ada korelasi yang signifikan antara bakteri yang diperkaya dan faktor risiko penyakit jantung setelah dua diet lainnya.

Regina Lamendella, profesor biologi di Juniata College, mengatakan temuan ini adalah contoh bagaimana orang dapat memberi makan microbiome usus dengan cara yang positif.

"Makanan seperti kenari utuh menyediakan beragam substrat - seperti asam lemak, serat, dan senyawa bioaktif - untuk dimakan mikrobioma usus kita," kata Lamendella. "Pada gilirannya, ini dapat membantu menghasilkan metabolit bermanfaat dan produk lain untuk tubuh kita," ujarnya.

Kris-Etherton menambahkan bahwa penelitian di masa depan dapat terus menyelidiki bagaimana kenari mempengaruhi microbiome dan elemen kesehatan lainnya.

"Temuan ini menambah apa yang kita ketahui tentang manfaat kesehatan dari kenari, kali ini bergerak ke arah pengaruhnya terhadap kesehatan usus," kata Kris-Etherton.

Sumber : Bisnis.com