Orang Tua Wajib Tahu, Ini Mitos dan Fakta tentang Vaksin Anak

Ilustrasi. - Freepik
03 Juli 2020 17:47 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Ada sejumlah orangtua yang meragukan vaksinasi untuk anak. Hal ini disebabkan keraguan karena banyaknya informasi yang beredar tentang vaksinasi.

Padahal, vaksinasi penting untuk diberikan pada si kecil agar daya tahan tubuhnya terbentuk, sehingga terhindar dari berbagai penyakit di masa yang akan datang.

Nah, jika kamu termasuk orangtua yang masih sering termakan isu-isu tentang vaksinasi, simak yuk beberapa mitos dan fakta terkait vaksinasi, yang dijelaskan oleh dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M. Sc, Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya.

Baca juga: Makan Kuaci Memang Melelahkan, tapi Ternyata Manfaatnya Luar Biasa

Berikut daftarnya seperti yang suara.com kutip dari siaran pers 'Webinar Pentingnya Vaksinasi Untuk Anak'.

1. Vaksinasi dapat menyebabkan autisme
Hoax mengenai kaitan vaksin MMR dengan autisme bermula dari penelitian seorang dokter bedah bernama Wakefield dengan hanya 18 sampel di tahun 1998 dan sudah dibongkar sejak 2011.

Berbagai penelitian lain yang lebih sahih dan melibatkan sampel jauh lebih besar membuktikan tidak ada kaitan vaksin MMR dengan autisme.

Baca juga: Jika Anda Mengalami 4 Tanda Ini, Artinya Anda Stres karena Pekerjaan

Kemungkinan, usia pemberian vaksin MMR (sekitar 1 tahun) bertepatan dengan usia di mana gejala-gejala autisme mulai tampak, sehingga seolah-olah berkaitan.

2. Sebagian vaksinasi tidak wajib sehingga tidak penting diberikan
Masing-masing vaksin dapat mencegah penyakit yang berbeda. Sebagian vaksin memang sudah disubsidi oleh pemerintah, sehingga lebih dikenal, seperti Hepatitis B, BCG, polio, DPT kombo, dan campak.

Namun, bukan berarti vaksin lain tidak penting. Vaksin PCV misalnya, mencegah peradangan paru-paru (pneumonia) dan peradangan selaput otak (meningitis). Pneumonia adalah penyebab kematian balita nomor satu di Indonesia.

Atau vaksin rotavirus yang dapar mencegah diare akibat rotavirus. Diare adalah penyebab kematian balita nomor dua di Indonesia.

3. Anak yang batuk, pilek, atau minum obat tidak boleh vaksinasi
Kondisi batuk pilek ringan tanpa demam bukanlah kontraindikasi untuk vaksinasi. Dokter akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan anak tidak berada dalam kondisi penyakit berat.

Sebagian besar obat-obatan, termasuk antibiotik, tidak mempengaruhi potensi vaksin. Namun, bila anak mendapatkan pengobatan yang bersifat menekan imunitas untuk jangka waktu lama, maka dokter akan menunda pemberian vaksin.

4. Vaksin tidak dapat diberikan apabila sudah terlambat dari jadwal
Vaksin tetap dapat disusulkan apabila terlambat, karena anak belum memiliki kekebalan dari vaksin tersebut. Pemberian vaksin yang sifatnya serial tidak perlu mengulang dari awal apabila ada yang terlambat.

Sumber : Suara.com