Tidur Lama Beda dengan Tidur Nyenyak, Mana yang Lebih Bermanfaat Bagi Tubuh?

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
20 Maret 2021 13:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Tidur merupakan istirahat yang paling baik. Namun, sebagian orang merasa mengalami gangguan tidur saat kesulitan terlelap ketika tengah malam. Atau lazimnya, orang awam menyebut dengan istilah insomnia.

Tapi ternyata kondisi itu tidak selalu menjadi gangguan tidur loh. Secara medis, Asosiasi Psikiater Amerika mendefinisikan gangguan tidur sebagai masalah tidur pada seseorang yang meliputi kualitasnya.

"Artinya (tidur) nyenyak atau dangkal atau terbangun bangun. Kemudian jumlahnya, waktunya. Jumlah tidurnya dan waktu tidurnya itu di mana, sore hari, selepas maghrib, tengah malam atau justru pagi hari atau siang hari. Itu bisa saja ritme bisa berubah setiap orang," kata dokter spesialis kedokteran jiwa Dr. dr. Martina Wiwie, Sp.KJ., dalam webinar 'Reguler Sleep, Healthy Future', Jumat (18/3/3021).

Baca juga: Penderita Autoimun dan Asma Bisa Mendapat Vaksin, tapi Ini Syaratnya...

Masalah tidur dengan kualitas yang buruk akan mengakibatkan stress dan gangguan fungsi tubuh saat beraktivitas siang hari.

"Jadi yang dikatakan gangguan tidur kalau sampai mengganggu fungsi aktivitasnya sehari-hari. Kalau hanya tidurnya kurang, belum tentu itu gangguan tidur," imbuh dokter Martina.

Ia mengatakan bahwa kualitas tidur tidak bergantung pada berapa lama waktu tidur. Sebab kebutuhan waktu tidur yang direkomendasikan setiap orang akan berbeda, teegantung dari usia.

Anak-anak tentu akan lebih banyak waktu tidurnya daripada orang dewasa juga lansia, kata dokter Martina. Bahkan kebutuhan tidur lansia juga sebenarnya tidak terlalu banyak, direkomendasikan 7 sampai 8 jam. Namun, menurutnya, ada beberapa lansia cukup hanya tidur 5 atau 6 jam saja per hari dan tidak berdampak pada aktivitas sehari-harinya.

Baca juga: Sekolah Daring Bikin Anak Lama Menatap Layar, Ini Tips Menjaga Kesehatan Mata

"Jadi enggak usah terlalu pusing dengan jumlah jamnya, tetapi usahakan kualitas tidurnya. Kualitas tidur yang baik adalah tentu tidur yang nyenyak, yang dalam, tanpa ada mimpi apalagi mimpi buruk," ujarnya.

Martina menjelaskan, orang yang bermimpi biasanya kualitas tidurnya kurang dalam. Tetapi, ritme tidur selalu bergelombang. Sehingga, seseorang bisa saja mengalami fase tidur dangkal lalu menjadi tidur dalam. Beberapa jam kemudian kembali jadi tidur dangkal.

Dari beberapa studi disebutkan, lanjut dokter Martina, bahwa waktu terbaik untuk tidur antara pukul 10 malam hingga 2 dini hari. Saat waktu itu, sangat direkomendasikan untuk tidur agar kualitasnya baik.

"Karena di situlah waktu kita tidur dalam terjadi perbaikan imunutas, perbaikan peradangan, lalu pengendapan memori, pengolahan dari memori jangka pendek ke jangka panjang," ucapnya.

Sumber : Suara.com