Advertisement

Salah Satu Dampak Bulliying pada Anak, Harga Dirinya Hancur

Newswire
Senin, 09 Agustus 2021 - 07:27 WIB
Nina Atmasari
Salah Satu Dampak Bulliying pada Anak, Harga Dirinya Hancur Ilustrasi. - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA- Perundungan atau bullying rawan terjadi dalam pergaulan anak-anal. Padahal, tindakan bullying yang diterima anak ketika kecil bisa membekas hingga mempengaruhi kesehatan jiwanya.

Menurut psikiater, dampak bullying bisa menghancurkan harga diri anak di masa depan, bahkan ketika bullying dilakukan tidak sengaja seperti membandingkan anak dengan orang lain.

“Karena perlakuan tersebut, itu bisa buat anak harga dirinya hancur,” ungkap dokter jiwa dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ pada acara Manage Your Trauma and Build Your Best Relationship, Minggu (8/8/2021).

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Baca juga: Cuma 5 Menit Bikin Brownies dalam Mug, Ini Resepnya

Bukan hanya bullying dari orangtua, ia menambahkan anak juga bisa trauma akibat dari bullying dan tindakan perundungan dari orang lain.

“Kita kadang suka lupa sama makna pembullyan, sehingga kita akhirnya menganggap anak yang dibully bisa sembuh sendiri. Rasa luka ini akan membuat kepercayaan dirinya buruk, dan akhirnya menimbulkan rasa malu,” ungkapnya lebih lanjut.

Akibat dari perundungan anak ini, rasa trauma anak bisa menjadikan dirinya tidak mampu bersuara dan tidak mau hidup di masyarakat.

Selain itu, akibat perundungan dan rasa trauma anak bisa menghambat proses perkembangan anak. Sehingga anak tidak mampu mengeksplorasi dirinya untuk berkembang.

Baca juga: Tips Aman Vaksinasi Covid-19 untuk Ibu Hamil

Advertisement

“Dan ini bisa membuat anak merasa tidak berguna, dan tidak berhasil seperti orang lain, akhirnya kalau mereka kena trigger, seperti teman-temannya menertawakan dia, itu bisa menimbulkan rasa bahwa dirinya buruk dan tidak layak dicintai,” lanjutnya.

Kata dr. Elvine Gunawan, rasa trauma anak bisa muncul dari faktor latar belakang. Mulai dari emosi, kesepian, rasa lapar dan haus terhadap penghargaan orang lain, mudah lelah, dan kabur dari masalah.

“Kalau kita tidak perbaiki luka dan rasa malunya, maka siklus ini akan terus berulang. Dan mereka tidak bisa melewati fase trauma ini dengan baik,” kata dr. Elvine.

Advertisement

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Suara.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Kantor Imigrasi DIY Buka Layanan untuk WNA di Mall Pelayanan Publik Jogja

Jogja
| Jum'at, 07 Oktober 2022, 00:27 WIB

Advertisement

alt

Profil Howard Timotius Palar, Petinggi Indomaret yang Meninggal Tertabrak Truk

News
| Kamis, 06 Oktober 2022, 23:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement