Semakin Erat Hubungan dengan Kerabat Penderita Alzheimer, Semakin Tinggi Risiko Anda Ikut Terkena

Ilustrasi - meioambienterio.com
18 Maret 2019 22:57 WIB Denis Riantiza Meilanova Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Hubungan kekerabatan bisa mempengaruhi kesehatan. Sebuah studi baru menyebutkan bahwa memiliki hubungan kerabat tingkat kedua atau ketiga dengan penderita Alzheimer meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini.

Sudah diketahui bahwa anak dari pasien Alzheimer berisiko lebih tinggi terkena penyakit ini. Tetapi pada studi baru menunjukkan, orang yang memiliki garis keturunan dengan penderita Alzheimer dalam riwayat keluarga besarnya ternyata juga memiliki risiko lebih tinggi terkena dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga Alzheimer.

Semakin erat hubungan dengan kerabat penderita Alzheimer, dan semakin besar jumlahnya, semakin tinggi pula risiko seseorang terkena penyakit ini.

"Gambaran besar pesannya adalah menegaskan kembali betapa penting dan kuatnya riwayat keluarga (baik dekat maupun jauh) untuk memprediksi risiko," kata ketua penulis studi, Lisa Cannon-Albright dari Fakultas Kedokteran Universitas Utah, Amerika Serikat, dilansir dari Reuters, Kamis (14/3/2019).

Silsilah Keluarga

Dalam penelitian ini, Cannon-Albright dan rekan-rekannya memanfaatkan database penduduk Utah untuk mengetahui silsilah keluarga secara lengkap hingga mengetahui penyebab kematian dari anggota keluarga yang sudah meninggal.

Dari basis data itu, para peneliti memilih 270.080 orang yang memiliki setidaknya tiga generasi silsilah dengan data kedua orang tua, keempat kakek-nenek dan setidaknya enam dari delapan kakek-nenek buyut. Di antara mereka ada 4.436 orang dengan sertifikat kematian yang mengindikasikan penyakit Alzheimer sebagai penyebab kematian.

Orang-orang yang memiliki satu kerabat tingkat pertama dengan Alzheimer, orangtua atau saudara kandung, memiliki risiko 1,73 kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak. Memiliki dua atau lebih kerabat tingkat pertama penderita Alzheimer memberikan risiko yang lebih besar, yakni 3,98 kali lebih besar.

Memiliki hanya satu atau dua kerabat tingkat dua yang terkena Alzheimer, yakni kakek-nenek, bibi-paman, dan saudara kandung yang hanya seayah atau seibu, tetapi tidak ada kerabat tingkat pertama yang terkena Alzheimer, memiliki risiko lebih kecil. Tetapi keadaan berubah secara dramatis bila ada tiga atau lebih kerabat tingkat dua yang terkena Alzheimer. Dalam hal itu, risiko terkena Alzheimer naik menjadi 2,46 kali lipat dari seseorang yang tidak terkena Alzheimer dalam riwayat keluarganya.

Risiko benar-benar meningkat untuk orang-orang dengan satu kerabat tingkat pertama yang terkena dan dua kerabat tingkat kedua yang terkena. Risikonya 21,29 kali lebih besar untuk mengembangkan Alzheimer dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memilikinya dalam riwayat keluarga.

Kerabat Tingkat Tiga

Seseorang mungkin merasa aman karena tidak memiliki kerabat tingkat pertama atau kedua dengan Alzheimer. Tetapi para peneliti menemukan bahwa orang-orang dengan riwayat Alzheimer dalam tiga atau lebih kerabat tingkat tiga, kakek-nenek buyut, paman dan bibi buyut, serta sepupu tingkat pertama, berpotensi 1,43 kali lebih mungkin terkena Alzheimer dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga Alzheimer.

"Peningkatan risiko (pada mereka yang hanya memiliki kerabat tingkat tiga) menggambarkan peran kuat dari kecenderungan bawaan pada Alzheimer," kata Cannon-Albright.

"Kemungkinan gen yang dimiliki anggota keluarga ini bertanggung jawab atas kecenderungan mereka terhadap Alzheimer. Jadi, bahkan dalam situasi di mana seseorang tidak memiliki kerabat dekat yang terpengaruh, mereka masih cenderung berbagi faktor gen predisposisi."

Studi baru ini menegaskan betapa pentingnya mengambil sejarah keluarga yang terperinci, kata Weiyi Mu, seorang penasihat genetik di Institute of Genetic Medicine di Johns Hopkins University.

"Penyakit Alzheimer adalah gangguan multifaktorial," katanya.

Sumber : Bisnis.com