Penderita Penyakit Jantung Lebih Cepat Alami Penurunan Memori Verbal dan Kefasihan Kata

Otak - cbsnews.com,au
22 Juli 2019 12:57 WIB Tika Anggreni Purba Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA— Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of American College of Cardiology 2019 menunjukkan seseorang yang memiliki gangguan pembuluh darah yang membawa darah ke jantung, lebih rentan mengalami penurunan fungsi kognitif pada otaknya.

Para peneliti melakukan penelitian selama 12 tahun terhadap 7.888 orang dewasa sejak mereka berusia rata-rata 62 tahun. Pada awalnya tidak ada dari mereka yang memiliki riwayat stroke, serangan jantung, dan demensia. Namun, pada akhir penelitian, terdapat 480 orang atau 5,6 persen dari seluruh peserta mengalami serangan jantung dan nyeri dada akibat penyumbatan pembuluh darah.

Ada kemungkinan bahwa penyakit jantung koroner dapat menyebabkan penurunan kognitif karena kurangnya oksigen ke otak.

Dalam penelitian juga ditemukan bahwa setelah mengalami serangan jantung, pasien-pasien tersebut mengalami penurunan kognitif yang lebih cepat dibandingkan dengan peserta yang tidak mengalami masalah jantung sama sekali.

Penurunan kognitif juga disertai dengan penurunan keterampilan verbal, kelancaran berkata-kata, dan keterampilan untuk bercerita.

Selama penelitian, para peneliti menilai fungsi kognitif partisipan dalam delapan gelombang hingga 12 tahun.

Untuk menguji memori verbal, peserta diminta untuk  mengingat 10 kata dan menyebutkan sebanyak mungkin hewan yang berbeda dalam satu menit, untuk menguji kefasihan semantik.

Mereka mengajukan pertanyaan kepada orang-orang mengenai tanggal, bulan, tahun, dan hari dalam seminggu.

Peserta yang mengalami serangan jantung menunjukkan tingkat penurunan kognitif yang lebih cepat di ketiga tes.

Pasien yang mengalami nyeri dada menunjukkan penurunan kuat dalam keterampilan kognitif terkait dengan waktu, sedangkan pasien serangan jantung mengalami penurunan kognitif yang signifikan dalam memori verbal dan kefasihan kata.

"Bahkan perbedaan kecil dalam fungsi kognitif dapat mengakibatkan peningkatan risiko demensia dalam jangka panjang," kata peneliti Wuxiang Xie, dari Imperial College School of Public Health di London.

Karena tidak ada obat untuk demensia saat ini, deteksi dini dan intervensi sangat penting untuk memperlambat gejala.

“Penurunan kognitif ini pada akhirnya dapat menjadi sumber masalah dalam kehidupan sehari-hari, bahkan pada akhirnya membutuhkan perawatan,” ujar penulis peneliti Suvi Rovio dari University of Turku, Finlandia.

Itulah sebabnya pasien yang menderita penyakit kardiovaskular harus dipantau fungsi kognitifnya. Jangan abaikan fungsi kognitif sekalipun yang mengalami masalah adalah jantung.

Pemantauan harus dilakukan lebih sering setelah kejadian serangan jantung.

Sumber : Reuters