OTG Memiliki Kekebalan Covid-19 Jangka Pendek? ini Kata Ilmuwan...

Ilustrasi. - Freepik
10 September 2020 16:17 WIB Syaiful Millah Lifestyle Share :

Bisnis.com, JAKARTA –  Orang tanpa gejala (OTG) tidak memiliki kekebalan jangka panjang terhadap virus corona baru atau Covid-19. Hal tersebut terungkap dari sebuah studi baru yang dilakukan oleh ilmuwan militer China.

Dilansir dari SCMP, Kamis (10/9/2020) sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Ye Lilin dari Institute of Immunology of Army Medical University menemukan bahwa hanya pasien yang pulih dari kondisi parah atau sedang, yang memiliki sel kekebalan memori yang menargetkan virus SARS-CoV-2.

Sekitar 80% orang yang dinyatakan positif memiliki gejala ringan atau tanpa gejala. Terkait hal ini, banyak kekhawatiran tentang apakah mereka dapat terinfeksi kembali oleh virus dengan kemungkinan adanya gelombang virus yang bisa dapat kapan saja.

Dalam makalah yang diposting di Medrxiv, Ye menyebut bahwa penemuan baru yang dilakukan oleh tim penelitinya menjadi dasar untuk merancang vaksin yang efektif secara nasional. Sebagaimana diketahui, ada lebih dari 400 vaksin yang tengah dikembangkan di seluruh dunia.

Hasil awal dari temuan menunjukkan bahwa sebagian besar kandidat vaksin dapat menghasilkan berbagai respons antibodi. Namun, pertanyaan lanjutan terus muncul seperti apakah atau berapa lama perlindungan kekebalan yang diinduksi dapat bertahan.

Baca Juga: Dokter Jiwa Ungkap Orang Cemas Sulit Berpikir Positif

Para peneliti militer di China mempelajari sampel darah yang dikumpulkan dari hampir 60 pasien di Chongqing dengan berbagai kondisi dan tahapan perkembangan penyakit. Pasien kemudian dibandingkan dengan 8 sukarelawan sehat yang direktur sebelumnya.

Peneliti menemukan adanya perbedaan yang mencolok. Pasien tanpa gejala atau bergejala ringan gagal menghasilkan sel yang mampu bertahan lama dan menargetkan virus corona. Sel B memori dihasilkan oleh sistem kekebalan, dan mampu mengenali virus serta memproduksi antibodi selama beberapa dekade.

Namun, para peneliti melihat peningkatan sel T pada pasien. Sel ini adalah jenis sel kekebalan lain yang dapat menyerang virus, tetapi tidak secara khusus menargetkan SARS-CoV-2. Ye menduga ini adalah sisa-sisa infeksi sebelumnya yang disebabkan oleh jenis virus corona lain.

Sementara itu, pasien yang berjuang keras melawan Covid-19 dan mengalami kondisi parah, dilaporkan telah memperoleh sejumlah besar sel B memori sehingga lebih siap untuk menghadang masuknya virus corona di waktu mendatang.

Baca Juga: Nyeri Otot hingga Kram Bisa Jadi Tanda Kekurangan Vitamin D

Akan tetapi, pasien dengan penyakit parah ini tidak mampu menghasilkan antibodi jika ada sel T. Dalam kasus ini, respons imun pasien tidak lengkap. Ye menuturkan bahwa sel B dan sel T biasanya bekerja sama untuk menangkis serangan virus.

Para peneliti menyebut, mendorong kedua tanggapan kekebalan itu akan sangat penting bagi pengembangan vaksin untuk mencegah infeksi Covid-19 kedepannya. Beberapa negara yang tidak mampu menghentikan penyebaran wabah menyatakan bahwa populasi mereka pada akhirnya akan mendapat herd immunity.

Sumber : bisnis.com